Konspirasi Gagal

Konspirasi selalu dan identik dengan konotasi Negatif, jika kita telaah dari segi bahasa tidak lah buruk, karena konspirasi bisa dikatakan suatu persekutuan baik  terbuka ataupun terselubung, namun karena sejak awal penempatan kata konspirasi pada sesuatu yang Negatif maka terstigma dimasyarakat kata tersebut memiliki  konotasi negatif, dalam hal ini dalam suatu Negara tiap element pengelola lembaga tinggi negara seharusnya berkonspirasi demi mencapai tujuan NKRI sesuai yang tertuang pada  Pancasila dasar Negara kita.

Sejati nya Eksekutif , yudikatif dan legislatif saling mengkontrol dan berkonspirasi baik dalam perancangan draf UU, pengesahan UU dan realisasi UU, namun tidak demikian kenyataan nya, mereka seolah sesuatu yang terputus dengan dapur masing – masing, jika kita melihat seutuhnya negara kesatuan republik Indonesia 3 komponen tersebut adalah 1 dalam kerangka NKRI, dan saling mengkontrol dan mendorong ke1 muara yaitu terwujudnya Indonesia yang selaras dengan Pancasila mulai dari sila ke 1 sampai dengan sila ke 5.

https://www.google.com/maps/@46.6968374,12.0840958,0a,75y,104.47h,75t/data=!3m4!1e1!3m2!1sAF1QipOjvkUS7JIKb–IqW0I3VN0k_Ftwj3mzsbGT1P9!2e10 Check out Lago di Braies Shared via the #StreetView app

Namun mengapa korelasi tersebut menjadi terpisah yang membuat integritas lembaga tersebut tidak kokoh menghujam kemasyarakat, karena ketiga lembaga tersebut saling menjatuhkan bukan saling bergandeng tangan memperkuat NKRI, jawaban nya sederhana dan telah banyak masyarakat membaca, yaitu kepentingan yang berbeda, kepentingan dan ambisi sektoral membuat mereka tidak seiring sejalan, yang pada akhirnya tergerus lah trash/kepercayaan publik/masyarakat kepada lembaga tinggi negara tersebut.
Lalu bagaimana membenahi nya, tidak cukupkah dengan konstitusi, konstitusi adalah kesepakatan dan kesepakatan bisa sepihak dan berubah sesuai dengan massa, kepentingan dan situasi pada saat nya. 

Maka harus ada suatu yang mutlak yang mengikat dan mampu berevolusi dengan sendiri nya melewati ruang dan waktu, yang mengkontrol segala sesuatu mulai dari dasar sampai akhir suatu tujuan, baik itu secara personal, lembaga, berbangsa dan bernegara, satu tatanan sosial yang terus berevolusi tanpa dirubah.

Mengapa demikian? Karena hakikat nya yang berubah adalah manusia nya, namun alam semesta tidak dan tatanan didalam nya bergantung dari komunitas/koloni/masyarakat yang melaksanakan dari tatanan sosial itu sendiri, dalam hal ini seperti kita ketahui bersama, tatanan yang paling ideal adalah tatanan yang bersifat ketuhanan, karena doktrin dan realisasi nya tak pernah berbenturan, yang membuat nya berbenturan adalah kepentingan dan ambisi dari sikomponen tatanan sosial itu sendiri. 

Maka tidak naif dan muluk jika kita pahami mengapa para penyebar inspirasi keyakinan begitu kokoh dan mantap nya ketika dia telah berhasil menselaraskan antara doktrin monoteism nya dengan aplikasi kegiatan individu dan sosial nya, karena semua itu melahirkan keselarasan yang murni, tertata, seimbang, dan tidak akan pernah berbenturan.

Lalu jika kita lihat fenomena yang ada mengapa tidak demikian? It’s simple “singkirkan dahulu kepentingan dan keinginan” untuk memahami keparipurnaan tidak boleh ada selain keparipurnaan itu sendiri.

Iin Solihin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s